Lingkungan, RTH, dan Imbal Jasa

Permasalah lingkungan telah menjadi perbincangan hangat semenjak merebaknya isu global warming. Salah satu indikasinya adalah pertimbangan yang cukup besar terkait aspek lingkungan dalam pembangunan. Bentuk nyata dari pelaksanaan pembangunan berkelanjutan tersebut adalah adanya perencanaan untuk Ruang Terbuka Hijau (RTH) maupun kawasan lindung sebagai penunjang fungsi ekologi.

Terkait dengan RTH, pemerintah mengeluarkan kebijakan tersedianya 30% RTH di setiap kota. Namun berdasarkan hasil penelitian banyak yang menyatakan bahwa luas RTH sebesar 30% belum mampu menunjang fungsi ekologi kota. Bahkan di Kota Bandung, luas RTH yang harus disediakan untuk memenuhi kebutuhan air adalah sebesar 80% dari luas wilayahnya, sehingga sulit untuk dipenuhi (Ramadhan, 2012). Oleh karena itu, dibutuhkan kerjasama dengan daerah lain dalam pengelolaan lingkungan untuk menunjang fungsi ekologi.

Read more of this post

Advertisements

Susun Menyusun Rumah Susun!

Rencana pembangunan rumah susun (rusun) di Cileungsi menimbulkan pertanyaan besar terkait kesesuaian program dalam menjawab kebutuhan masyarakat. Hal ini tidak terlepas dari bobroknya proses penyusunan rencana yang dilakukan pemerintah daerah, dalam hal ini dinas tata bangunan dan pemukiman Kabupaten Bogor. Dinas terkait melupakan aspek penting dalam perencanaan, yaitu partisipasi masyarakat.

Sejak tahun 2007 pemerintah telah menetapkan bahwa penyelenggaraan penataan ruang dilakukan oleh pemerintah dengan melibatkan peran masyarakat (UU nomor 26 tahun 2007, pasal 65). Salah satu bentuk peran masyarakat dilakukan melalui partisipasi dalam penyusunan rencana tata ruang. Dengan demikian, setidaknya pemerintah harus menampung aspirasi masyarakat sebagai bentuk partisipasi sebelum mengeluarkan rencana.

Read more of this post

Braga, Lain di Luar, Lain di Dalam

Bangunan-bangunan megah bersejarah di Braga ibarat dinding raksasa yang memisahkan antara kaum metropolitan dengan kaum terpinggirkan. Ketika masyarakat Kota Bandung asyik melintasi Braga sambil memandangi bangunan peninggalan penjajah, tepat dibalik bangunan tersebut justru terdapat perumahan kumuh dengan kondisi yang memprihatinkan. Sungguh kedua pemandangan ini sangatlah bertolak belakang.

Read more of this post

Emas; Luar Awas, Dalam Lepas

Emas yang biasanya sering dikaitkan dengan inflasi menyimpan segudang potensi untuk perbaikan ekonomi negara. Selain digunakan sebagai perhiasan dan alat investasi, emas merupakan pengatur penting perekonomian dunia. Hal ini dibuktikan dengan banyaknya negara yang menambah devisanya dengan emas, salah satunya Amerika. Melihat kenyataan tersebut, timbul pertanyaan, sebenarnya seberapa pentingkah kepemilikan emas bagi sebuah negara? Sekedar menambah kekayaankah? Atau ada maksud besar lain?

Emas telah dipercaya sebagai alat tukar selama berabad-abad karena daya belinya yang stabil, mudah disimpan, dan mudah dijual.  Selain itu, sifatnya yang relatif langka dan tidak mudah rusak menyebabkan emas memenuhi seluruh kriteria mata uang yang baik.

Lalu, mengapa saat ini kita menggunakan uang kertas? Bagaimana sejarah perubahannya dan siapakah sebenarnya yang mendapat keuntungan dari perubahan tersebut? Seluruh pertanyaan tersebut terjawab dalam buku “Think Dinar” karya Efendy Kurniawan. Pada tulisan ini, saya mencoba berbagi mengenai isi buku tersebut beserta kaitannya dengan potensi alam Indonesia.

Read more of this post

Bijak Tentukan Energi

Beberapa tahun belakangan ini, Indonesia menghadapi tantangan yang sangat besar mengenai ketahanan energi. Tantangan yang menghadang tidak hanya berasal dari internal negara, namun juga datang dari negara-negara lain. Selain itu, fokus negara-negara di dunia terhadap kelestarian lingkungan hidup turut menjadi aspek tambahan dalam mempertimbangkan masalah energi dalam negri. Oleh karena itu, sudah seharusnya Indonesia mulai menyiasati berbagai rencana ketahanan energi nasional yang mengacu pada lingkungan.

Saat ini hampir tidak ada aktivitas satu negara pun yang terlepas dari energi sebagai penyokongnya. Hal ini menyebabkan permintaan terhadap energi termasuk minyak menjadi tinggi, sehingga  harga minyak dunia menjadi meningkat drastis. Keadaan saat ini tidaklah sama dengan 1970 sampai 1980-an ketika Indonesia masih menjadi pengekspor minyak. Saat ini untuk memenuhi kebutuhan minyak dalam negeri saja Indonesia cukup kerepotan. Meskipun mulai tahun 2008 harga minyak dunia mulai stabil, namun kemungkinan untuk terjadi kenaikan drastis di masa mendatang sangatlah besar. Kemungkinan ini terlihat dari naiknya konsumsi energi berbagai negara seperti Cina dan India yang meningkat masing-masing 7,7% dan 6,8%. Read more of this post

Komunitas dan Penerus Perubahan

Dalam sejarah dunia tidak pernah ada tokoh besar yang melakukan perubahan sendirian. Mereka selalu berjuang bersama rekan-rekannya dalam perkumpulan atau yang saat ini sering kita sebut komunitas. Jalur ini diambil agar langkah-langkah yang mereka lakukan menjadi terorganisir dan tujuan yang ingin dicapai lebih cepat terwujud.

Melalui komunitas, tujuan lebih cepat tercapai karena fungsi evaluasi berjalan baik. Banyaknya anggota yang ikut bertukar pikiran akan menghasilkan rumusan strategi yang efektif serta melihat dari berbagai sudut pandang. Selain itu, seringnya pertemuan akan memunculkan rasa kekerabatan yang erat sesama anggota. Sehingga teman-teman dalam komunitas bisa menjadi tempat berbagi canda dan tawa yang dapat membuat perjuangan menjadi lebih asik serta tidak membosankan.

Lebih jauh lagi, hal terpenting yang menjadi fungsi komunitas adalah kaderisasi. Tidak sedikit komunitas yang bubar atau akhirnya mati tanpa ada pergerakan. Salah satu penyebab ini terjadi adalah tidak samanya semangat antar anggota, terutama anggota baru. Padahal, untuk melakukan perubahan besar dibutuhkan waktu yang tidak singkat. Oleh karena itu, dalam komunitas haruslah ada proses transfer nilai untuk menjaga tujuan awal dan menciptakan generasi penerus perubahan lainnya.

Emansipasi Wanita, Penunda Surga?

Dibalik anak yang luar biasa ada ibu yang lebih luar biasa dibelakangnya. Begitulah ungkapan yang dapat menggambarkan betapa ibu sangat menentukan sukses tidaknya seorang anak. Bagaimana tidak? Ibu memberikan lingkungan pendidikan sejak dini hingga dewasa bagi anak di rumah. Ucapan, gerak-gerik, dan tingkah laku ibu di rumah akan menjadi contoh bagi buah hatinya. Namun seiring berjalannya waktu, mayoritas ibu di dunia tidaklah berperan sebagaimana idealnya. Perlahan tapi pasti, semuanya terkikis dengan embel-embel “emansipasi wanita”.

Read more of this post

Realita Sistem Pendidikan dan Tujuan Pendidikan Nasional

Pendidikan merupakan aspek pokok bagi kehidupan suatu bangsa. kondisi bangsa di masa datang, sangat dipengaruhi oleh paradigma berfikir masyarakatnya yang terbentuk melalui suatu proses pendidikan. Proses pendidikan yang terarah akan membawa bangsa ini menuju peradaban yang lebih baik. Sebaliknya proses pendidikan yang tidak terarah, hanya akan menyita waktu, tenaga, serta dana tanpa ada hasil. Dengan demikian sistem pendidikan sebagai implementasi pendidikan nasional sangat menentukan maju mundurnya bangsa ini.

Pendidikan nasional telah diatur dan didefinisikan dalam Undang-undang Sistem Pendidikan Nasional (UU Sisdiknas) nomor 20 tahun 2003. Dalam UU tersebut pendidikan didefinisikan sebagai usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pendidikan agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa dan negara. Selain itu, dijelaskan pula bahwa Pendidikan nasional bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab.

Namun sampai saat ini tujuan pendidikan nasional tersebut belum tercapai, salah satunya aspek kemandirian. Berdasarkan data survey tenaga kerja nasional 2009 yang dikeluarkan Bappenas, dari 21,2 juta masyarakat Indonesia yang masuk dalam angkatan kerja, sebanyak 4,1 juta atau 22,2 % menganggur. Yang lebih mengejutkan lagi pengangguran didominasi oleh lulusan diploma dan perguruan tinggi dengan kisaran diatas 2 juta orang. Hal ini mencerminkan gagalnya sistem pendidikan kita dalam menciptakan individu yang mandiri sesuai dengan tujuan pendidikan nasional.

Read more of this post