Setetes Renungan Hari Ied

#Part 1…………….

Allaahu Akbar3x

Laa ilaaha illallaahu Wallaahu Akbar

Allaahu Akbar Walillaahilhamd

Suara takbir berkumandang di seluruh penjuru dunia. Orang-orang yang telah terpatri syahadah dalam hatinya, baik tua-muda, kaya-miskin, rambut coklat-putih-maupun hitam, semuanya menyerukan hal yang sama, yaitu kebesaran Allah. Dalam gegap gempita hari raya, sekali lagi takbir itu berkumandang,

Allaahu Akbar3x

Laa ilaaha illallaahu Wallaahu Akbar

Allaahu Akbar Walillaahilhamd

Semua bersukacita menyambut kemenangan di hari nan fitri, mulai dari anak-anak yang senang  karena melihat ketupat serta terlepas dari siksaan lapar dan haus, pelajar dan orang tua yang bisa menikmati masa libur Ramadhannya di kampung halaman, sampai orang yang benar-benar memaknai shaum Ramadhan. Mereka berbahagia dengan alasannya masing-masing yang hanya Allah dan dirinya yang tahu pasti. Kemudian takbir itu berkumandang lagi,

Allaahu Akbar3x

Laa ilaaha illallaahu Wallaahu Akbar

Allaahu Akbar Walillaahilhamd

Namun dibalik orang yang berbahagia dan bersukacita, terdapat orang yang sangat bersedih dengan perginya Ramadhan. Mereka tahu betapa mulianya Ramadhan dan mereka tahu tidak ada bulan yang sebanding dengan Ramadhan.

“Seandainya ummatku tau keutamaan bulan Ramadhan, tentu mereka akan meminta supaya bulan yang ada dijadikan Ramadhan selamanya.” (HR. Ibnu Majah)

Apa daya yang bisa dilakukan oleh golongan orang bersedih ini, Ramadhan tetap berlalu dan takbirpun kembali berkumandang,

Allaahu Akbar3x

Allaahuakbar kabiiro, walhamdulillaahikatsiiro, wasubhanallaahibuk rotawwaashiila

Laailaahaillallaahu wala na’budu illa iyyaah, mukhlishiina lahuddiina walau karihal kaafiruun,

Laa ilaahaillallaahuwahdah, shodaqowa’dah, wanashoro ‘abdahuu, waa’azzajundahuu wahazamal ahzaaba wahdah,

Laa ilaaha illallaahu Wallaahu Akbar

Allaahu Akbar Walillaahilhamd

 

#Part 2…………….

Begitulah kiranya sedikit gambaran suasana saat ied menjelang. Takbir berkumandang hampir di seluruh pelosok dunia, baik oleh orang-orang yang hatinya senang maupun mereka yang bersedih. Sungguh pemandangan yang sangat biasa di setiap tahunnya, tidak ada yang berbeda.

Sekali lagi, sungguh ini adalah pemandangan yang sangat biasa di setiap tahunnya, tidak ada yang berbeda. Saking biasanya, kita terkadang lupa dan kaget ketika ada pertanyaaan, “Apakah takbir itu?”

Sekedar ungkapan rutin saat ied kah, yang hanya ditiru dan diikuti dari generasi ke generasi tanpa pemahaman makna?

Kemanakah maknana-makna indah dalam setiap untaian kata pada takbir, tahlil, dan tahmid Idul Fitri?

Allaahu Akbar 3x

Allah maha besar 3x

Allaahuakbar kabiiro;

Allah maha besar dengan segala kebesaran,

Walhamdulillaahikatsiiro;

Segala puji bagi Allah sebanyak-banyaknya,

Wasubanallaahibuk rotawwaashiila;

Dan maha suci Allah sepanjang pagi dan sore.

Sudahkah kita benar-benar menyucikan Allah? Tidak mencampuradukkan antara yang hak dan bathil?

Lalu mengapa kita belum bisa menerima dan mengamalkan perintah-Nya? Mengapa kita masih memilih-milih dalam ibadah?

Berapa banyak perintah Allah yang kita singkirkan karena tidak suka menjalankannya?

Laa ilaahaillallaahu walaana’budu illa iyyaahu, mukhlishiina lahuddiina walau karihal kaafiruun;

Tiada Tuhan selain Allah dan kami tidak menyembah selain kepada-Nya dengan memurnikan diin Islam meskipun orang kafir membencinya.

Benarkah kita sedang berusaha memurnikan diin-Nya? Benarkah kita tidak pernah menduakannya? Lalu mengapa kita tidak menjadikan-Nya sebagai prioritas? Mengapa masih ada saja alasan untuk tidak menyembah-Nya dengan totalitas (kaffah)?

Padahal Allah dengan jelas berfirman,

“Hai orang-orang yang beriman, masuklah kamu ke dalam Islam keseluruhan (kaffah)….” (Al-Baqarah, 2:208)

Laa ilaahaillallahu wahdah, shodaqo wa’dah, wanashoro ‘abdahu, wa’aazzajundahu, wahazamal ahzaaba wahdah;

Tiada Tuhan selain Allah dengan ke Esaan-Nya. Dia menepati janji, menolong hamba dan memuliakan bala tentara-Nya serta melarikan musuh dengan ke Esaan-Nya.

Sudahkah saat ini Allah memuliakan bala tentara-Nya serta melarikan musuh Allah? Benarkah Allah telah mendatangkan pertolongan-Nya?

Lalu mengapa sampai saat ini Islam masih tertindas? Mengapa kita masih melihat kemiskinan dan bencana merajalela?

Dalam sebuah hadits dinyatakan,

Al-Islaamu ya’lu walaa yu’la ‘alaih

“Islam itu tinggi dan tidak ada yang lebih tinggi darinya.”

Laa ilaahaillallaahu wallaahu akbar, Allaahu akbar walillaahilhamd;

Tiada Illah selain Allah, Allah maha besar. Allah maha besar dan segala puji bagi Allah.

#Part 3…………….

Berkaca dari pertanyaan-pertanyaan di atas, seharusnya akan timbul pertanyaan,

Lalu dimanakah letak kebesaran Allah? Dimanakah letak pertolongan-Nya?

Jika memang kita telah melantunkan takbir di atas, seharusnya kita memang sedang dan telah melihat tanda-tanda kebesaran dan pertolongan Allah.

Lalu apa yang sedang dan telah kita lihat saat ini? Sudahkah sesuai dengan lantunan takbir kita? Atau sekali lagi, lantunan takbir tersebut memang hanya ucapan yang kita ikuti karena telah dilakukan oleh para pendahulu kita?

Teman, sesungguhnya ketika Rasul dan para sahabat melantunkan takbir ini, Islam sedang menang!! Islam sedang jaya! Pertolongan Allah telah terlihat! Dan Kebesaran Allah nampak jelas!

Hal ini karena Rasul dan para sahabat benar-benar mensucikan Allah… Mereka tidak sekedar bertasbih dalam ucapan, namun juga dalam perbuatan. Mereka senantiasa memurnikan din Allah dan totalitas (kaffah) dalam beribadah.

Dengan demikian, wajar jika mereka sangat bergembira dalam bertakbir demi menyambut hari kemenangan yang hakiki. Mereka benar-benar menang! Takbir, tahlil, dan tahmid tidak hanya menjadi ucapan, namun dijadikan amalan yang menghasilkan kesejahteraan bagi seluruh manusia.

#Part 4

Kini kita belum melihat kemenangan yang hakiki. Takbir, tahlil, dan tahmid yang kita kumandangkan hanyalah sebuah kata-kata. Oleh karena itu, wajar jika banyak wajah yang prihatin, bukan karena tidak adanya opor atau baju baru saat Idul Fitri, namun karena melihat kondisi dunia saat ini yang belum memaknai takbir, tahlil, dan tahmid sebenar-benarnya.

Lalu apakah kita akan terus bersedih? Tidak, justru yang harus kita lakukan saat ini adalah bergerak. Berjuang segiat, seperkasa, dan selembut mungkin layaknya perjuangan Rasul dan sahabatnya.

Jika kita tilik perjalanan Rasul dan sahabatnya, maka hanya ada Al-Quran disana. Memang hanya Al-Quranlah yang mereka gunakan sebagai landasan dan tuntunan demi kesejahteraan ummat di dunia, tidak ada sumber lain. Tentunya kita semua sepakat dengan hal ini.

Oleh karena itu mari bersama-sama mendekatkan diri pada-Nya dengan cara menggali ilmu Allah yang tidak lain adalah Al-Quran. Jangan sampai aktivitas dunia menyebabkan kita kehilangan waktu untuk mendalami ilmu Sang Khalik. Setelah mempelajarinya, jalankanlah seluruh kandungan Al-Quran tanpa pilah-memilah.

Dengan itu semua, Insya Allah kita akan segera melihat hari kemenangan yang hakiki. Hari ketika takbir, tahlil, dan tahmid tidak hanya menjadi ucapan.

Mulailah dari diri kita sendiri, bukan karena paksaan, namun karena berjuang di jalan-Nya adalah kebutuhan kita.

“Sesungguhnya Allah tidak merubah keadaan sesuatu kaum sehingga mereka merubah keadaanyang ada pada diri mereka sendiri.” (Ar-raad, 13:11)

Advertisements

About Mahdi Karim
Hamba-Nya yang ingin produktif berkarya untuk Ibadah dan kemaslahatan ummat

One Response to Setetes Renungan Hari Ied

  1. Mariana says:

    well, that last part sounds touchy.

    “Mulailah dari diri kita sendiri, bukan karena paksaan, namun karena berjuang di jalan-Nya adalah kebutuhan kita.”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s

%d bloggers like this: