Braga, Lain di Luar, Lain di Dalam

Bangunan-bangunan megah bersejarah di Braga ibarat dinding raksasa yang memisahkan antara kaum metropolitan dengan kaum terpinggirkan. Ketika masyarakat Kota Bandung asyik melintasi Braga sambil memandangi bangunan peninggalan penjajah, tepat dibalik bangunan tersebut justru terdapat perumahan kumuh dengan kondisi yang memprihatinkan. Sungguh kedua pemandangan ini sangatlah bertolak belakang.

Saat kita melintas di Braga mungkin yang terlihat hanyalah keramaian khas kota serta suasana gedung tempo dulu. Kawasan yang menjadi icon Kota Bandung pada masa penjajahan Belanda ini memang masih memiliki daya tarik kuat meski kurang terurus. Namun jika kita memasuki gang kecil diantara gedung-gedung tua disini, maka kita akan diantarkan menuju rumah-rumah padat dengan kondisi dan jumlah penghuni yang mencengangkan. Semakin mendekati Sungai Cikapundung, semakin banyak pemandangan yang membuat kita mengelus dada prihatin.

Tepat di pinggir Sungai inilah banyak warga Kampung Braga yang mendirikan rumah. Tentunya resiko yang ditanggung sangat besar, mulai dari mengungsi setiap hujan, dinding rumah yang rapuh akibat hempasan air, sampai gangguan kesehatan. Menurut salah seorang warga, setiap hujan air sungai bisa meluap hingga dua meter. Oleh karena itu, hampir semua rumah dibuat berlantai dua agar ketika hujan barang-barang bisa diungsikan ke lantai atas.

Rumah di pinggiran sungai Cikapundung

Rumah-rumah di daerah inipun tidak bisa memenuhi standar rumah sederhana sehat menurut Keputusan Menteri Permukiman Prasarana Wilayah Nomor 403/KPTS/M/2002. Dalam keputusan tersebut ada tiga aspek kebutuhan yang harus dipenuhi untuk mencapai standar rumah sederhana sehat, yaitu kebutuhan minimal masa dan ruang (kebutuhan ruang perorang 9 m2 dan tinggi 2.8 m), kebutuhan kesehatan dan kenyamanan (pencahayaan, suhu, dan kelembaban dalam ruangan), serta kebutuhan minimal keamanan dan keselamatan (struktur yang kuat pada pondasi, dinding, atap, dan lantai).

Dalam kebutuhan masa dan ruang, banyak rumah yang tidak bisa mencapai standar 9 m2 perorang. Hal ini dikarenakan dalam satu rumah dihuni oleh banyak kepala keluarga. Bahkan ada rumah yang beranggotakan 20 jiwa dengan luas total dua lantai rumah hanya sekitar 150 m2. Hal ini berarti ruang perorang hanya 7,5 m2.

Tidak jauh berbeda dengan kebutuhan masa dan ruang, kebutuhan kesehatan dan kenyamanan juga sulit terpenuhi. Dengan kondisi perumahan yang padat disertai jalan gang yang sempit menyebabkan pencahayaan hanya mampu menjangkau beberapa ruangan. Hal ini membuat kondisi rumah menjadi lembab dan pengap.

Kondisi kemanan dan keselamatan juga sangat memprihatinkan. Seperti yang telah dijelaskan sebelumnya, karena tempaan air sungai yang kuat, dinding rumah menjadi rapuh dan ada yang sudah bolong. Selain itu, atap rumah juga banyak yang bocor. Bisa kita bayangkan betapa tidak nyamannya kondisi tersebut.

Namun kurang baiknya kondisi keuangan keluarga memaksa mereka untuk memilih tinggal di tempat tersebut. Bahkan ada salah satu keluarga yang untuk makan saja hanya mampu menyajikan nasi dan garam. Untuk membiayai sekolah, anak-anaknya harus bekerja di rumah tetangga dengan membantu mencuci. Jika tidak, maka ongkos untuk berangkat ke sekolah tidak ada.

Oleh karena itu, bukan kebanggaan, keamanan, maupun kenyamanan rumah yang mereka utamakan, melainkan peluang untuk melangsungkan kehidupan. Untuk itulah mereka memilih tinggal di dekat Braga yang merupakan salah satu pusat keramaian agar peluang kerja mereka besar. Mereka menjadi tidak peduli dengan ancaman yang ada seperti meluapnya air sungai dan penyakit.

Kondisi ini tentu sangatlah memilukan. Terlebih lagi, perumahan tersebut berada di Bandung yang merupakan Ibu Kota Jawa Barat. Jika di daerah yang dekat dengan pusat pemerintahan saja kesenjangan sosial begitu besar, apalagi di daerah lainnya? Belum lagi daerah ini juga terletak persis di balik gedung-gedung besar Braga yang sering dikunjungi orang-orang kaya. Mungkin para pengunjung ini sama sekali tidak mengetahui bahwa dibalik cahaya terang Jalan Braga terdapat puluhan penduduk yang harus bertahan dengan gelapnya kondisi ekonomi mereka. Memang begitulah Braga, lain di luar, lain di dalam.

Advertisements

About Mahdi Karim
Hamba-Nya yang ingin produktif berkarya untuk Ibadah dan kemaslahatan ummat

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: