Rangkuman Pedoman Analisis Bahaya dan Risiko Bencana Gempabumi


Indonesia sangat rawan dengan bencana gempabumi karena terletak pada zona batas empat lempeng besar, Lempeng Eurasia, Lempeng India, Lempeng Australia, dan Lempeng Pasifik. Oleh karena itu, dibutuhkan kemampuan analisis yang baik terhadap salah satu fenomena alam ini agar tidak memakan banyak korban.

Untuk itulah perlu dibuat pedoman analisis bahaya dan risiko bencana gempabumi yang bertujuan meneliti dan mengevaluasi proses-proses yang berkaitan dengan gempa yang dapat menjadi sumber bencana atau membahayakan kehidupan dan menimbulkan kerugian bagi manusia

Dengan mengetahui potensi dan  risiko bencana gempabumi di wilayah yang bersangkutan maka hal ini akan menjadi acuan bagi Pemerintah Daerah maupun instansi –instansi terkait dalam merancang upaya-upaya mitigasi bencana gempabumi baik dalam aspek non-struktural maupun struktural pada saat sebelum, pada saat terjadi dan sesudah bencana.

Pemahaman dasar gempa dan potensi bencananya

Gempabumi adalah peristiwa goncangan bumi karena penjalaran gelombang seismik dari suatu sumber gelombang kejut (“shock wave”) yang diakibatkan oleh pelepasan akumulasi tekanan di bawah permukaan bumi secara tiba-tiba. Sumber gempa yang paling umum ada dua, yaitu (1) pergerakan (“slip”) pada zona patahan aktif yang disebut sebagai gempa tektonik dan (2) Pergerakan magma pada aktivitas gunung api yang disebut sebagai gempa vulkanik.

Bencana ikutan yang dipicu gempa

Longsor dan Likuifaksi

Dapat dilihat dari kestabilan lereng dan kondisi lapisan tanah di bawah permukaan yang rawan likuifaksi. Selain itu, juga melihat dari beban tambahan dari gempa yang dapat mengakibatkan lereng menjadi tidak stabil.

Tsunami

Pada umumnya gempabumi yang menyebabkan tsunami adalah gempabumi yang terjadi pada zona patahan raksasa antara lempeng di zona subduksi/tumbukan.

Pengangkatan dan penurunan muka bumi

Proses pengangkatan dan penurunan muka bumi ini terjadi pada patahan naik di bwah permukaan, utamanya pada patahan megathrust di zona subduksi. Proses pengangkatan memberikan dampak antara lain:

- Populasi terumbu karang pada zona pasang-surut di sepanjang tepi pantai akan terangkat ke atas air dan mati, baik sebagian ataupun total,

- Membuat daratan menjadi luas sehingga sehingga membuka lahan kehidupan baru

- Infrastruktur di tepi pantai menjadi tidak berfungsi

Proses penurunan memberikan dampak antara lain:

- Ekosistem yang tadinya hidup di atas air menjadi mati

- Wilayah permukiman yang terlalu dekat dengan muka laut menjadi tenggelam sehingga tidak bisa dihuni lagi.

- Erosi pantai yang maju ke daratan bisa merusak infrastruktur di dekat pantai.

Persyaratan dan metoda untuk melakukan analisis bahaya patahan aktif

Mengidentifikasi sumber gempabumi artinya melakukan identifikasi patahan-patahan aktif, baik yang berada di daratan ataupun di bawah laut. Peta patahan aktif adalah peta dari kenampakan jalur patahan di permukaan bumi yang merupakan garis pertemuan antara bidang dan permukaan

Syarat Pemetaan Patahan Aktif

-       Syarat Keahlian.

Syarat disini dimaksudkan pada orang-orang yang memang telah mendalami ilmu geologi,teknik sipil, dan bisa juga geoteknik.

-          Skala ketelitian peta

Untuk dapat melakukan pemetaan aktif berskala regional/nasional paling tidak harus menggunakan peta dasar topografi berskala 1:50.000 atau foto udara strereografi berskala 1:100.000. Untuk keperluan detail perencanaan tata ruang daerah dan tindakan pengurangan risiko bencana diperlukan peta patahan aktif dengan skala minimum 1:10.000

-          Menilai bahaya (segmen) patahan aktif

3 parameter utama yang menentukan tingkat potensi bahaya suatu patahan aktif, yaitu:

  1. Besar magnitudo/kekuatan gempabumi (karakteristik) yang dapat terjadi (pada patahan tersebut). Hal ini dapat diperkirakan dari panjang segmen patahan tersebut
  2. Perioda ulang. Merupakan waktu rata-rata diantara kejadian gempa tersebut
  3. Kompleksitas struktur/jejak patahan di permukaannya. Hal ini mengacu kepada lebar jalur dan pola distribusi deformasi tanah disekitar jalur patahan tersebut.

Membuat zonasi bahaya patahan

Zonasi bahaya (“set back”) jalur patahan aktif yang sudah diberlakukan di U.S.A dan New Zealand adalah selebar 20 meter di kanan-kiri jalur patahan. Meskipun demikian, lebar zonasi ini bisa lebih dipersempit apabila ada studi yang lebih detail yang menunjukkan bahwa resiko bahaya akibat pergerakan patahan aktif tersebut lebih terkonsentrasi pada zona yang lebih sempit.

Tahapan untuk melakukan usaha pengurangan resiko bencana patahan gempa.

Empat prinsip dalam mitigasi bencana patahan gempabumi, yaitu:

  1. Dapatkan informasi dan peta bahaya patahan gempa sebaik dan seakurat mungkin
  2. Buat rencana dan peraturan untuk menghindari pembangunan di zona bahaya
  3. Ambil tindakan pengurangan risiko bencana untuk komunitas masyarakat bangunan-, dan infrastruktur yang sudah terlanjur berada pada zona bahaya.
  4. Komunikasikan dan diskusikan dengan sebaik-baiknya perihal risiko bencana patahan gempa dengan masyarakat dan pihak-pihak terkait terutama untuk kasus no.3 di atas.

Metoda analisis bahaya goncangan gempabumi

Metoda untuk melakukan analisis bahaya goncangan gempabumi, yaitu metoda deterministik dan probabilistik.

Metoda deterministik (berdasarkan satu atau beberapa skenario gempa dari patán gempa tertentu)

Metoda ini memakai input data skenario gempabumi dari satu sumber patahan gempabumi yang paling berpotensial untuk menimbulkan bencana di wilayah yang bersangkutan. Di Jepang metoda ini disebut juga sebagai Peta Goncangan Gempa Berdasarkan Sumber Patahan Gempa Tertentu ( ”Seismic Hazard Map for Specified Source Fault”). Cara ini terutama baik dilakukan untuk wilayah yang kebetulan dilintasi atau berada pada jarak cukup dekat dari suatu patahan gempa utama sehingga diperkirakan akan mengalami kerusakan yang signifikan apabila gempa besar terjadi pada patahan tersebut. Selain itu pembangunan infrastruktur besar dan wilayah kota besar juga sering memakai metoda deterministik ini, khususnya yang cara detil seperti akan diuraikan di bawah.

Metode Deterministik Konvensional

Metode Deterministik Detil (stochastic)

Metoda probabilistik (berdasarkan semua sumber gempabumi yang ada di wilayah yang bersangkutan dengan analisis probabilistik).

Analisis goncangan gempabumi dengan cara probabilistik (”Probabilistic Seismic/Ground-motion Hazard Assesment (PSHA)”) adalah cara yang paling umum dilakukan di dunia. Metoda ini tidak hanya memperhitungkan satu sumber patahan gempabumi saja tapi menghitung semua efek goncangan gempa dari semua sumbersumber gempabumi pada dan di sekitar wilayah studi.

Secara sederhana, perbedaan Deterministik dengan Probabilistik adalah sebagai berikut:

Peta Bahaya Vs Peta Rawan Bencana vs Peta Risiko Bencana:

Ke tiga istilah di atas seringkali dikacaukan dalam pemakaiannya. Dalam

pedoman ini didefinisikan bahwa:

- Peta bahaya = hazard map

- Peta rawan Bencana = (potential) dissaster map

- Peta risiko bencana = risk map

Hubungan antara ke tiga jenis peta tersebut diperlihatkan dalam diagram di

berikut ini:


About these ads

About Mahdi Karim
Hamba-Nya yang ingin produktif berkarya untuk Ibadah dan kemaslahatan ummat

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 2,610 other followers

%d bloggers like this: